Sekedar Berbagi

Mengisi hari di sela- sela aktivitas pekerjaan, sungguh suatu hal yang menyenangkan..

Menulis hal- hal kecil yang semoga dapat memberikan manfaat..

Hanya sekedar berbagi kawan..
Selamat Membaca..

Oktober 13, 2009. Kaitkata: , . 1. Tinggalkan komentar.

Belajar Silat untuk Sehat

Silat merupakan salah satu aset budaya nasional dari warisan nenek moyang yang memiliki kekayaan materi fisik dan spiritual. Utamanya fisik, silat berasal dari upaya- upaya pertahanan diri yang kemudian melahirkan tehnik- tehnik beladiri, walau didalamnya pula terdapat kandungan- kandungan spiritual seperti kerendahhatian, kasih sayang dan persaudaraan. Namun dari kandungan- kandungan itu pula menjadikan silat berbatasan dengan budaya kekerasan.
Disinilah titik awal terjadinya penyimpangan terhadap silat sebagai budaya luhur bahkan dari silat ataupun beladiri umumnya justru mampu melahirkan oknum- oknum pembela harga diri dan kebenaran yang justru mengotori dunia persilatan.
Namun setelah seseorang mengkaji dan mempelajari silat lebih lanjut dan semakin mendalam, maka semestinya yang timbul adalah jiwa satriya dan rendah hati, terkecuali bagi orang- orang tertentu yang memiliki “kebebalan” tertentu alias BEBAL!
Ilmu Silat tak terbatas, semakin diselami maka semakin banyak hal yang harus diketahui, dipahami dan dikuasai. Dan semakin menyadari bahwa keilmuan kita masih belum selayaknya ditimbang dengan para pencipta beladiri. Memahami hal ini maka bertahap akan memupus kesombongan atas kemampuan diri. Bahkan dalam masa tertentu tak lagi terlintas tujuan silat adalah beladiri, namun silat adalah tuntunan hidup, pengetahuan dan olahraga bahkan hiburan.
Pesilat sejati justru lebih mengedepankan silaturahmi bahkan sedapat mungkin menghindar dari pertikaian. Demikian hal nyata bahwa silat mampu menjadikan kehidupan sehat lahir dan batin, selama Pendidikan Budi Pekerti Luhur ditanamkan. Dan pe-er bagi para pelatih untuk tidak hanya mengajarkan silat sebagai materi fisik semata.
Lestarikan Silat Indonesia!

Mei 10, 2009. Kaitkata: , , . Opini. 3 komentar.

Gangguan Jiwa di Hampir Setiap Orang

Seseorang dikatakan ‘waras’ apabila memiliki kondisi yang lazim dialami oleh manusia pada umumnya. Maka ketika seseorang berfikir ataupun berperilaku tidak seperti lazimnya dilakukan oleh orang lain dikatakanlah memiliki gangguan jiwa. Namun pandangan ini merupakan kaca mata umum, hal mana setiap hal dipandang secara umum tidak secara khusus sebagaimana pandangan seorang dokter jiwa atau psikiater.<?php the_excerpt[ Pandangan secara umum ini memiliki barometer yg selalu berubah seiring jaman dan lingkungan. Di desa atau lingkungan pesantren ketika seseorang memakai pakaian minim berjalan kesana kemari, sudah tentu dikatakan kurang waras, sekalipun sebenarnya mode tsb lagi in di kota.
Dalam wawasan budaya luhur khususnya ‘kawruh Kejawen’, warasnya orang- orang di Jaman Edan ini tetap saja sebagai orang Edan alias nggak waras, sekalipun tampak lahir mereka adalah orang- orang waras dan berperilaku normal pada umumnya. Bahkan tersebut adalah dari golongan ulama ataupun cendikiawan. Aparat yg menyalahgunakan wewenangnya, pejabat yg korupsi sampai dengan rakyat kecil yg bergaya pejabat. Dan para penyebar agamapun yg kini disucikan, dulu pun dikategorikan sebagai orang gila. Saat ini Orang- orang yg mengaku waras di jaman Edan ini tampak menguasai keadaan, menindas atas nama hukum, menzalimi hingga membunuh atas nama kebenaran.
Fitrah manusia sebagai khalifah di muka bumi berpotensi sebagai slogan belaka ketika perang dan kebejatan moral semakin membumi dalam masyarakat orang- orang waras di jaman ini.
Fenomena gangguan jiwa ada di hampir setiap orang.
Mari kita ambil cermin, tatap lekat diri kita dan tanyakan, waraskah saya?

Mei 7, 2009. Kaitkata: . Opini. 1 komentar.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.