Lembaga Independen untuk Buruh

Ketika SPSI PT Wachyuni Mandira dianggap tak lagi mampu mewakili kepentingan anggotanya, maka pada waktu itu pula muncullah SBSI menawarkan seribu harapan hingga keberadaannya mampu menyedot hampir seluruh anggota SPSI. Maka terjadilah perang urat saraf diantara keduanya. Desas desus dalam masyarakat karyawan pun tidak lagi hanya membahas arogansi kebijakan perusahaan melainkan merambah ke dalam saling kecam diantara kedua tubuh yg semestinya mewakili dan menjembatani kepentingan buruh. Gebrakan- gebrakan langkah SBSI kian lama semakin menjadikan SPSI diam dan menjadikan para pengurus dan anggota SBSI lupa diri. Dan seperti prediksi sebelumya, kisah diakhiri dengan diusirnya sejumlah buruh dari lokasi perusahaan dan dipenjarakannya ketua serikat atas dasar hukum terhadap tindakan serikat dan anggotanya yang dianggap anarkis!
Sungguh memprihatinkan, kisah diatas merupakan wajah citra perburuhan di negeri ini. Selalu dan sering kali terjadi. SBSI dan sejenisnya terkesan sebagai pihak penggugat, sedangkan SPSI dinilai sebagai konco nya perusahaan. SPSI dalam lingkungan perusahaan mudah sekali tumbang, ketika diprediksi mulai terjadi pergerakan buruh maka ‘tradisi’ nya adalah diadakannya mutasi tugas ataupun penurunan jabatan. Dan buruh akan selalu terjebak dalam tuntutannya.
Semestinya buruh tidak hanya bekerja dan bekerja saja, namun perlu mendapatkan semacam breefing untuk memahami hak- hak dan kewajibanya serta motivasi untuk berwirausaha. Dan sayangnya keberadaan serikat- serikat buruh selama ini lebih terkesan sebagai pihak yang hanya bertugas menuntut kesejahteraan buruh. Padahal kesejahteraan pada hakikatnya tidak tergantung pada ‘kebaikan hati’ para pengusaha, melainkan tergantung pada upaya dan kesadaran para buruh itu sendiri. Menuntut pihak lain tidak akan mampu merubah nasib diri sendiri. Pesoalan buruh masih terus berkembang, dan semestinya buruh untuk saat ini memerlukan suatu lembaga independen nirlaba yg murni bergerak di bidang pendidikan dan penyadaran buruh.

April 28, 2009. Kaitkata: . Opini.

Tinggalkan sebuah Komentar

Jadilah yang pertama untuk berkomentar!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback URI

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.