Kufur Nikmat dalam Dunia Buruh

Masih diseputar dunia perburuhan. Ketika Wachyuni Mandira masih didalam naungan Gajah Tunggal Group atau NurSalim, kehidupan karyawannya tampak lebih baik dari pada sekarang ketika Wachyuni Mandira dibawah Neptune. Gajah Tunggal tak segan- segan memberikan adjusment kepada karyawan yg berprestasi, walau karyawan itu berada pada level bawah sekalipun, lemburan memadai dan dikenal sebagai perusahaan yg mampu menyerap ribuan tenaga kerja, walau akhirnya lepasnya Wachyuni Mandira dari Gajah Tunggal disusul ‘goro- goro’ di Mahkamah Agung atas kasus Nursalim. Namun toh tetap saja sedikit banyaknya meninggalkan kenangan baik bagi karyawannya. Hubungan sosial yg baik, pemenuhan kebutuhan kesehatan dan pendidikan yg memadai. Berbeda dgn Wachyuni Mandira dibawah naungan Neptune, isu pengurangan karyawan, efisiensi lembur, demontrasi sampai dgn ‘deportasi’ karyawan tampaknya lebih sering dibicarakan oleh karyawan atau lingkungan diluar lokasi perusahaan. Dan perubahan sistem ini mestinya sangat menjadikan karyawan down dan kalang kabut. Namun hal ini sah- sah saja, perusahaan boleh menerapkan kebijakan apapun selama tidak melanggar UU. Yg menjadi masalah justru fenomena kaum buruh itu sendiri. Ketika perusahaan dalam kondisi makmur dan segala bentuk kebutuhan karyawan tercukupi, sebagian dari mereka berkata:
” Segala bentuk kebutuhan kita dipenuhi, mana ada perusahaan lain yg seperti ini. Ini bermaksud supaya kita kerasan disini. Artinya sebenarnya kita telah dibodohi, perusahaan takut kehilangan kita!
Namun ketika perusahaan mengalami kolaps dan terjadi efisiensi terhadap pengeluaran perusahaan, berkembanglah pendapat:
“Perusahaan telah menekan kita!”
Apa sebenarnya yg dicari?
Saya pribadi memahami bahwa mentalitas seperti inilah yg memposisikan diri menjadi buruh dalam jangka panjang bahkan mungkin seumur hidup. Penyebab dasar kondisi ini adalah kurangnya pengetahuan mengenai agama ataupun budi pekerti luhur yg menjadikan kufur nikmat serta mayoritas rendahnya tingkat pendidikan.

Mei 3, 2009. Kaitkata: , . Opini.

Tinggalkan sebuah Komentar

Jadilah yang pertama untuk berkomentar!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback URI

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.