Mengapa harus Emosi?

Hidup tentram adalah dambaan setiap orang. Dan berbagai cara pun ditempuh demi mencapainya. Mencari harta sebanyak mungkin atau beribadah setekun mungkin adalah upaya- upaya yang paling lumrah dilakukan. Namun tetap saja, hati kerap kali didatangi oleh keresahan, kekhawatiran, ketakutan. Mengapa demikian?
Harta dan sareat ibadah merupakan sifat materi, maka penerapan hal ini sangat relatif. Kepuasan terhadap materi berbeda di setiap orang. Sedangkan ketentraman merupakan kondisi jiwa. Kesehatan fisik dapat dicapai melalui olahraga, maka kesehatan jiwa pun seharusnya dicapai melalui olahjiwa, bukan penumpukan materi. Kesalahan pandang mengenai konsep ini menjadikan orang menumpuk harta ataupun melakukan ritual ibadah sebanyak- banyaknya namun dalam kenyataannya kehidupan masih kerap dirudung resah bahkan petaka.
Seorang kawan menceritakan kondisi hidupnya yg kurang baik dan saya mengatakan: ada kesalahan kecil dalam diri anda yg perlu diperbaiki. Kesalahan kecil yg berdampak besar.
Serta merta ia menjawab: apa salah saya, apa kurang saya, saya merasa tak pernah menyakiti orang lain, saya pun rajin ibadah bahkan harta saya sebagian saya serahkan ke jalan Allah bla.. bla..
Mengapa harus emosi? Itulah sebuah kesalahan yg dimaksudkan. Emosi adalah pekerjaan nafsu, sedang ibadah merupakan kebutuhan jiwa. Nafsu memang sering kali menggantikan kedudukan jiwa. Sedangkan jiwa sejatinya merupakan inti kehidupan. Ketika raga mati, maka jiwa tetap hidup utk tetap meneruskan proses kehidupannya. Jiwa atau roh tak akan pernah mati. Sedangkan nafsu terbentuk dari reaksi kekuatan jiwa dan raga. Maka ketika jiwa dan raga terpisah, keberadaan nafsu pun berakhir. Nafsu adalah atribut dunia fana maka bersifat sementara. Dan ketika seseorang berpegang pada nafsu sekalipun utk beribadah pun ia tak akan dapat bertemu dengan Tuhan. Karena Tuhan hanya dapat dicapai dengan Jiwa. Maka ketika seseorang hendak mencari ketenangan hidup, ketenangan jiwa, maka semestinya adalah berolah jiwa, bukan berolah nafsu!

Mei 6, 2009. Kaitkata: . Opini.

Tinggalkan sebuah Komentar

Jadilah yang pertama untuk berkomentar!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback URI

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.